Orphanage? Apatuh? Hayoooo..

Yak panti asuhan! Gue sama temen2 gue yang tergabung dalam ManEight mengadakan bakti sosial di Panti Asuhan di daerah Bedugul. Seminggu sebelum hari h, kami mengumpulkan sumbangan dari masyarakat sekitar rumah, dari keluarga, dan dari teman-teman kami. Setelah mengumpulkan sumbangan yang lumayan banyak, kami bareng-bareng menata ulang dan memasukkan sumbangan ke dalam kardus. Dan sehari sebelum berangkat semua sudah beres. Kami pulang kerumah masing-masing untuk beristirahat karena perjalanan kami tidak dekat dan menggunakan motor.

Malam harinya, gue dapet kabar dari temen gue kalo pick up yang sudah kami sewa nggak bisa dan harus mencari Pick up lain untuk disewa. Ya mau dimana kan nyari penyewaan pick up malem2? Gue mencoba tanya-tanya ke temen dari komunitas lain dan mencoba browsing. Ada penyewaan, tapi pagi-pagi mana bisa. Akhirnya temen gue bilang kalo udah dapet mobil nya. Setelah tenang, gue menghidupkan alarm di hp gue, dan selamat tidurrrr..

“kring..kring..kring….” bunyi alarm dari hp gue.

Horayyyy, today we go to Orphanage! Gak sabar ketemu adik-adik lucu disana. Gue langsung mandi dan prepare barang apa aja yang harus gue bawa. Bawaan gue gak banyak kok; hp, charger, bedak, lipstick, kaca mata, headset, done. Jujur, gue bukan cewek yang kemana-mana harus bawa make up lengkap. Semuanya selesai dan gue nunggu Bella buat jemput gue.

“Re, dimana? Ayok aku di deket gang.” Kata Bella melalui BBM
“Oke shay, wait ya”
“oki:*”

Akhirnya gue meminta papa gue buat nganterin gue ke Bella. Setelah ketemu Bella, kita berdua langsung berangkat kerumah Okta untuk berkumpul. Disana cuma ada Cece Shella dan Timor bahkan Okta nya sendiri gak tau lagi dimana. Gue dan Bella pergi ke dapur.

“Tante, Refany laper.” kata gue ke mamanya okta
“Makan dulu nih udah beres kok.” jawab tante
“Yuk Bell makan satu piring berdua jak.” Lanjut gue dengan nada semangat ngajak Bella makan
“Juari kali haha yukyuk”

Yeaaayy gue makann! Laper tjoey belum sarapan. Setelah makan, satu persatu batang hidung anak-anak bermunculan. Kami memasukkan barang-barang sumbangan ke mobil Avanza yang sudah di sewa oleh Okta. Di dalam mobil diisi oleh supir, bapaknya Okta dan barang-barang sumbangan. Dan selanjutnya kami menentukan siapa aja yang satu motor. Dan FIX SEMUA. Tapi kok ada yang kurang satu? Siapa yang belum datang? Teka teki. Aelah lebay banget lu Ref. Andik belum datang, tapi katanya udah dijalan. Kami memutuskan untuk menunggu Andik di jalan. Tapi sebelum berangkat, kami harus berdoa supaya longtrip kami lancar. Berdoa dimulai…………

Gue berangkat bareng Ilham, dan gue lupa pasangan temen gue yang lainnya, yang gue inget ya cuman gue sama Ilham. Udah. Tenang, ilham Cuma temen gue kok. Setelah menunggu andik hampir 10 menitan, yak akhirnya kami nemuin Andik. CUSSSSSSSSS BEDUGULLL!!

Perjalanan normal ke Bedugul memakan waktu sekitar 2 setengah jam. Tapi, di jalan kami dapet banyak halangan dari motor Abank ada masalah lah jadi kami harus pelan-pelan jalannya, motor Abank bannya bocor lah untung bocornya deket sama bengkel, dan halangan yang terakhir ada razia. Kami semua gak ada yang punya SIM jadi harus nunggu razia selesai. Untung razianya deket sama bedugul. Akhirnya kami nunggu di warung sambil makan jagung. Nunggu nya lama, lamanya tu kek nunggu kepastian dari kamu tau gak. Eh tapi akhirnya PHP ahahahaha. Cukup Ref jangan curcol mulu-_-

Setelah 30 menitan menunggu, ada orang yang super duper baik (terharu gue) memberi kami jalan supaya bisa cepet sampe ke Bedugul. Jalannya serem tjoey! Sempit terus turunannya sama naiknya tajem banget dan apa diperjalanan hujan mulai turun. Yha gapapa lah kan Adventure.

Finally ! Kami sampe di Bedugul dengan basah kuyup tapi kami gak tau panti asuhannya. Wulan yang notabenenya adalah adiknya Okta, menelpon bapaknya untuk menjemput kami didepan Taman Raya Bedugul. Sambil menunggu jemputan, kami berteduh di bawah tenda. Hujan semakin deras, bapaknya okta keluar dari Taman Raya dan kami mengikuti beliau menuju ke Panti Asuhan.

Sesampainya di Panti, diam di musholah sejenak untuk sholat dan membersihkan diri. Ibu dan Anak-anak panti menyambut kami dengan ramah. Kami bersalaman dengan mereka. Setelah bersalaman, Ibu panti memberikan kata sambutan kepada kami selanjutnya menceritakan awal mula Panti di bangun dan mendoakan agar komunitas kami dapat berkembang. Kami membuka makanan yang sudah di masak oleh Mamanya Okta untuk di bagikan dan dimakan bersama anak Panti.  Selanjutnya, kita foto-foto bersama, membagikan snack untuk anak, dannnn pulaanngggg. Kami berterimakasih kepada ibu panti dan anak-anak panti karena sudah meluangkan waktu mereka untuk memberikan kami banyak pelajaran. Kami pergi ke depan Musholla untuk pulang karena motor kami parkirnya emang didepan Musholla.

Kami gak langsung pulang, kami melanjutkan perjalanan ke Gitgit Waterfall. Perjalan kami masih panjang menuju arah Singaraja. Saat itu pukul 5.20 PM, perjalanan dari Bedugul menuju Gitgit memakan waktu sekitar 30 menit. Jalan yang susah untuk dilewati karena menanjak dan berbelok-belok membuat kami harus pelan-pelan. Akhirnya sampe di Gitgit, YAAAKK WATERFALL BROOHH! Motor kami parkir di atas dan kami harus turun untuk menemukan waterfall nya. Kami melewati rumah penduduk dan kami menemukan satu anak kecil perempuan yang sedang berjualan gelang. Bayangin deh anak yang usianya sekitar 5 Tahun udah bisa jualan, lo gimana? Buang duit kan pinter tanpa tau gmna susahnya nyari duit, jujur tu anak kecil motivator gue banget. Kami membayar tiket masuk kami melanjutkan perjalanan lagi finalllyyy!!!! Nyampe juga. Sayangnya, saat itu air nya gak jernih. Sedih bat gak sih? Jadi gabisa nikmatin keindahan Gitgit. Satu persatu temen gue masuk kedalam dinginnya air disana. Gue aja yang gak nyebur udah kedinginan banget apalagi nyebur kan, gak kebayang deh dinginnya tu kek apa. Setelah puas menikmati pemandangan dan dinginnya air disana, kami pulang pada pukul 06.30.

Diperjalanan menuju parkiran motor, gue iseng bilang ke mantan gue (kebetulan kami satu komunitas juga)

“Balikan yok!” teriak gue ke dia
Tanpa menghiraukan gue, doi melanjutkan jalannya
“Elah, jangan baper, aku cumin bercanda” lanjut gue

Dia tetep gak menghiraukan gue dan dia menambah kecepatan jalannya. Bisa kali ya 2x buah kelapa jatuh dari pohon, nah anak fisika pasti bisa ngitung dan ngebayangin gimana cepatnya dia jalan. Gue dan temen-temen gue tertinggal jauh oleh nya. Tapi kami bisa ngejar dia kok Karena dia takut anjing dan jalannya tiba-tiba lambat. Gatau kenapa disini gue pengen ngakak. Kami pun akhirnya sampai di tempat dimana motor kami di parkirkan.

Lanjuttttt pulaaanggggg.. Diperjalanan sumpah dinginnya bisa bikin beku, gue udah pake 1 sweater dan 1 jaket dinginnya tetep bisa menembus kain setebel itu. Gue tahan dinginnya dan di perjalanan gue berbincang-bincang dengan Ilham. Kasian doi udah nyetirin gue dari Denpasar tapi gue diemin mulu. Gue menikmati pemandangan lampu-lampu yang menurut gue emang pemandangan BAGUS BANGET. JUJUR GUE SUKA PEMANDANGANNYA. Kami mencari pom bensin karena bensin kami udah pada habis, setelah mengisi bensin, kami istirahat sejenak di sebuah warung dan membeli minuman hangat untuk menghangatkan tubuh kami. Selesai istirahat kami melanjutkan perjalanan menuju Denpasar. Perjalanan gak deket, bisa dibilang jauh (banget) sampe pantat gue pegel dan 2 hari sakit kalo dibuat duduk.

Okta pinjem hp gue buat ngerekam perjalanan kami. Semua orang dia rekam muka gue yang lagi ngampetpun masuk kerekaman tersebut. Karena gue boncengan sama Ilham, Okta menggoda gue dan mengejek gue sama Ilham. Ah resek bat deh ya:(

“Fan, ada telpon” *sambil menyerahkan hp gue* kata okta
“sopo ta?” jawab gue
“gaada namanya”
Gue lihat nomornya dan gue kira itu nomor papa gue.
“halo” sapa gue
“halo” terdengar suara cewek diseberang sana
“mah aku masih dijalan tadi istirahat”
“oh iya”
“mama dimana?”
“dirumah”

Gue udah bilang Mama eh ternyata tante gue yang nelpon, abis gak ada kerjaan banget kan malem-malem nelpon gue, kalo mau ngasih duit mah gue seneng ditelpon tiap hari wkwkw. Jam 9.30 kami sampai di rumah Okta dan istirahat sebentar. Gue meminta Wulan untuk mengantar gue pulang, kebetulan Bella udah pulang duluan karena rumahnya jauh. Wulan mengantar gue sampai dalam rumah dan membantu gue ngomong ke nyokap bokap karena pulang malem. Setelah membantu gue ngomong ke nyokap bokap, Wulan pulang. Gue pergi ke kamar dan istirahat karena capek banget gila. Tumben banget gue bisa jalan sejauh ini sama temen-temen. Dan itu pertama kalinya gue pergi ke panti dan bertemu anak-anak yang LUCU BANGET. Gue dapet banyak banget pelajaran di hari itu. Dan that is gonna be one of the best day of my life!
Nih ada foto-fotonya
Selfie dulu tjoey di perjalanan menuju Bedugul sambil menunggu motor di tambal. 

Refany, Bella, Reno, Ivan

Bersama anak-anak panti

Andik, Bella, Refany, Ilham, Ivan, Ce Shella


Denny, Reno, Bella, Abank Dhio, Ivan, Nicko, Refany, Yuli, Wulan, Ilham



Ini sama Bella dan Anak-anak Panti







Sudah 1 bulan ini gue dekat dengan Tio, dan hari ini kita jalan bareng kesebuah taman yang sangat terkenal di kota kami. Perkenalan itu berawal saat gue ikut club basket di sekolah. Saat itu gue sedang latihan basket dengan teman-teman di sekolah dan tiba-tiba Dimas datang bersama temannya dan ikut berlatih bersama kami. Dimas adalah cowok yang gue suka saat itu. Setelah capek berlatih, gue memutuskan untuk istirahat sejenak. Gue memandang kearah Dimas dan temannya itu. Mereka bermain selayaknya atlet NBL yang sedang melawan satu sama lain.

Dimas dengan temannya nyamperin gue.

“hai, kenalin gue Tio” katanya sambil menjulurkan tangan ke hadapan gue
“haaa…. i…iya gue Sinta” sahut gue dengan nada gugup
“minta id line dong sin” lanjutnya
“sintaadinda tii, add yah, gue mau pulang dulu, udah maghrib nih, byeee” dengan nada keras gue segera meninggalkan mereka dan lari keparkiran.

Sesampainya dirumah, gue langsung bergegas mandi. Setelah mandi, gue nge-check hp gue, gue buka line dan ada satu undangan grup basket dari Tio. Gue terima aja siapa tau kan bisa dapet pengalaman baru dari grup itu. Chat di grup ribut hingga larut malam. Dan grup itu yang selalu nemenin gue saat gue kesepian.

***

Saat itu pukul 24.39, gue gak bisa memejamkan mata karena memikirkan Dimas. Di grup line, Tio masih aktif dan asik berbincang-bincang dengan teman-teman lainnya di grup. Akhirnya gue chat Tio dengan maksud untuk curhat.

Ya itu sedikit chat gue dengan Tio. Selanjutnya, Tio nyuruh gue buat moveon, dia selalu nyemangatin gue. Dan dia ngancem kalo gak bakal mau jadi temen gue kalo gue tetep bodoh memilih keputusan. Gue gak bisa milih antara Dimas atau Tio. Ya karena Dimas adalah cowok yang gue sayang dan Tio adalah temen gue yang selalu nyemangatin gue. Akhirnya Tio gak lagi bales chat gue, gue tau dia marah sama keputusan gue. Akhirnya gue pelan-pelan mengikuti apa yang Tio mau. Gue bilang ke Tio kalo gue bakal berusaha ngelupain Dimas. Berapa minggu gue ngehindar dari Dimas, dan akhirnya sedikit demi sedikit gue berhasil ngelupain Dimas.

***

“ting tung” bunyi itu terdengar dari hp gue. Ya notif apa lagi yang bunyi nya seperti itu selain line.
Gue langsung mengambil hp dari kantong baju putih abu abu gue. “ya paling promosi.” kata gue dalam hati. Setelah gue buka, eeehhhh ternyata Tio ngeline gue, gue mikir ngapain Tio ngeline, tumben banget dia ngeline kalo ga gue duluan yang nge-line dan juga kan dia lagi marah sama gue. Siang itu gue chat sama dia. Tio ngajak gue ketemu. Dan sorenya, gue ketemu Tio di suatu tempat yang biasanya anak-anak basket lainnya nongkrong. Dari sejak itu gue sama Tio jadi deket. Gak nyangka kan, dari gue kenal dia biasa aja, terus gue curhat sama dia tentang Dimas yang notabennya juga temennya Tio, terus chat-chat biasa, dan akhirnyaaaaa bisa deket kayak sekarang.

Gue sama Tio semakin hari semakin deket dan semakin sering ketemu. Hubungan ini berlanjut ke panggilan sayang. Kita berdua saling nyatain kalo kita sayang satu sama lain. Ntah kenapa, meskipun kita sudah saling nyatain perasaan kita, Tapi belum ada kata “jadian” di hubungan kita ini. Iya, bisa dibilang nge gantung. Biarpun di gantungin, gue tetep jadiin dia my one and only. Gue sayang sama dia meskipun kadang Tio nyebelin.

Kita menjalani hubungan yang semakin gak jelas ini. Tio selalu meyakinkan gue kalo dia bener-bener sayang gue. Dia selalu buat gue tersenyum saat gue badmood. Dia yang selalu ngehibur gue sampe gue bisa ketawa.

Gak jarang kita menghabiskan waktu bersama. Seperti saat ini, dia ngebuat gue ketawa dengan lelucon-lelucon yang keluar dari mulutnya. Seharian kita berada di taman dan jam sudah berada di angka 5 sore. Dia harus pergi ketempat saudaranya untuk menemani saudaranya yang sedang sakit. Dan akhirnya kita pulang ke rumah masing-masing.

***

Setelah 2 bulan kita menjalani hubungan ini, Tio tiba-tiba menghindar dari gue. Gue gak tau gue salah apa, gue berusaha menghubungi dia, tetapi hasilnya nihil. akhirnya gue dapet kabar tentang dia, dia bilang ke gue kalo hubungan kita gak bisa dilanjutin lagi karena dia harus pindah keluar kota bersama keluarganya. Dia takut gak bisa bahagiain gue lagi. Jadi dia membiarkan gue pergi dari hidupnya

“GUE SAYANG LO YO!” teriak gue
“iya gue tau sin, tapi mau gimana lagi? Kita gak bisa bareng lagi. Gue udah gak bisa selalu di
samping lo lagi”
“Jarak memisahkan kita? Apa cuman gara-gara jarak lo ngehindar dari gue yo?”
“Iya sin, gue takut kalo gue udah gabisa buat senyum lo lagi. Gue takut kalo lo khawatirin gue selama gue disana.”
“Bukan gini caranya yo. Dengan cara ini, lo malah bikin gue susah buat senyum untuk waktu yang lama. Gue udah sayang lo yo. Gue sayang banget sama lo.”
“maaf sin, lo pasti bisa dapet cowo yang lebih dari gue. Hidup lo masih panjang, semangat! Gue bakal selalu ada buat lo kok meskipun gue udah gabisa disamping lo lagi”
“gak mau yooo! Gue cuman sayang sama lo. Jangan salahin gue kalo gue gak bakal bisa moveon dari lo”
“semangat sin! Lo pasti bisa. Jangan sedih-sedih terus ya, goodbye sin”
 “no, this isn’t a goodbye. I will always stay here for you yo

Gue peluk Tio sambil menangis, gue gak mau kehilangan dia. Dia udah buat gue yakin kalo emang cuman dia yang sayang sama gue. Tapi kenyataannya nggak. Ya mau gimana lagi, gue gak bisa maksain keputusan Tio. Setelah gue peluk dia, gue lari pulang dan air mata gue sudah membahasi muka gue. Sampai rumah gue langsung pergi kekamar, gak kuat ngelihat dia pergi. I WILL ALWAYS STAY HERE FOR YOU YO!

***

Ditunggu Part ke II nya yaa guys!

Hai! Ini blog pertama gue. Kenalin gue Refany Enggal Delvia, anak pertama dari dua saudara yang lahir pada 19 Agustus 1998. Gue cewek dan saudara gue juga cewek. Gue punya adek yang super duper nakalnya. Sampe anak se gang pada takut sama dia padahal masih umur 3 tahun kurang. Gue aja juga takut kok. Meskipun dia nakal, tapi dia adalah anak yang (kadang) lucu banget.

Lanjut ke gue, gue kelas 2 SMA dan sekolah di salah satu sekolah swasta di Kuta, Bali. Gue hanya orang biasa, gak cantik, gak pinter, gak baik *pantesan jomblo*. Ada yang minat? Eh dikira barang di tanyain gini hahaha. Hobi gue makan, tidur, makan, tidur, makan, tidur, ya gitu aja terus sampe ibu kota Indonesia pindah jadi Jember. Talking-talking tentang Jember, Jember adalah tempat dimana Mak gue ngebrojolin gue. Anak-anak jaman sekarang mah enak ya dilahirinnya di Rumah Sakit. Jaman gue dulu, ngelahirin aja musti pake dukun beranak, yak Mak gue di bantuin kelahirannya oleh dukun beranak. Tapi tenang, muka gue gak kayak dukun kok. Tapi kayak peliharaannya dukun. Lohh?

Apa lagi ya yang kurang dari perkenalannya? Hmm, kurangnya kehadiran dirimu di sisi aqowwwwhh hahahaha garing. Dirasa udah kali ya perkenalannya sampe situ aja. Gak bakal cukup kalo gue ceritain kehidupan gue semua. Apalagi masalah percintaan gue yang selalu gagal. Eh kok malah curcol. Kalo ada yang masi kepo, bisa langsung tanya2 di ask.fm/RefanyED (ED nya huruf besar ya, ntar kalo kecil semua jadi refanyed *dibaca refa monyed* yakaleeeeeeee) dan monggo di follow juga ig  aing @REDelvia. Yhaaaa siapa tau bisa kenal lebih deket kan hihihi.. Udah yeeeeee.. BHAAYYYYY!!


Powered by Blogger.